Nuzulul Qur’an, Momentum kembali kepada Al-Qur’an

Umat Islam harus tau, 17 Ramadhan merupakan peristiwa penting dalam sejarah islam yang menegaskan tentang Ketuhanan dan petunjuk bagi umat manusia di seluruh alam. Allah swt menciptakan bumi tempat huniannya manusia bersama makhluk lainnya lengkap dengan petunjuk agar mampu menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi. Petunjuk keselamatan dan terhindar dari kesesatan.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara bertahap selama ±23 tahun (610-632 M) sebagai pedoman hidup. Malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang berbunyi:

إقرأ باسم ربك الذي خلق (۱) خلق الإنسان من علق (۲) إقرأ وربك الأكرم (3) الذي علم بالقلم (4) علم الإنسان ما لم يعلم (5)

Pada masa sebelum kerasulan, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira, Jabal Nur, untuk beribadah dan merenung, menghindari perilaku jahiliyah di Mekkah. Beliau mengasingkan diri (uzlah/khalwat) ke Gua Hira untuk bertafakur, beribadah, dan mencari ketenangan batin akibat keprihatinan mendalam terhadap kondisi moral masyarakat Jahiliyah di Mekah yang rusak. Beberapa keprihatinan beliau diantaranya:
* Keprihatinan Moral: Rasulullah merasa sedih melihat penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kerusakan akhlak di masyarakat Mekah.
* Mencari Kebenaran (Tafakur): Beliau ingin merenungkan tentang pencipta alam semesta dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
* Persiapan Wahyu: Menurut beberapa sumber, uzlah ini adalah bagian dari skenario Allah untuk mempersiapkan Nabi menerima tanggung jawab besar sebagai rasul.
* Tradisi Tahannuts: Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah terbiasa menjauhkan diri dari kesibukan duniawi (khalwat) untuk beribadah.

Al-Quran tidak diturunkan sekaligus. Tahap pertama, dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia (Baitul Izzah) secara utuh, kemudian diturunkan ke Nabi Muhammad secara bertahap selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah titik balik sejarah manusia yang membawa risalah Islam, mengubah peradaban manusia dari masa kegelapan menuju cahaya ilmu, iman, dan akhlak. Al-Qur’an diturunkan sebagai Al-Furqan (pembeda kebenaran dan kebatilan) yang memberikan ketenangan hati dan petunjuk jalan lurus.

Selain menjadi petunjuk, turunnya wahyu Allah swt menjadi penguat bagi Nabi dalam menyampaikan wahyu serta menjadi pelipur lara saat menghadapi berbagai kesulitan dan goncangan dalam kehidupan. Fokus utama dakwah Nabi adalah memperbaiki akidah dengan menanamkan tauhid (mengesakan Allah) dan melepaskan manusia dari penyembahan berhala serta khurafat, yang membebaskan jiwa dan akal manusia. Dan yang terpenting Motivasi utama dakwah beliau adalah menunaikan perintah Allah, bukan untuk mencari kekuasaan atau kekayaan, yang membuat Nabi tetap bertahan meski menghadapi ujian berat. Wahyu yang diturunkan beliau imani dan beliau sampaikan serta laksanakan.

Nuzulul Qur’an Menjadi momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Al-Qur’an melalui tilawah (membaca), tadabbur (memahami), dan tathbiq (mengamalkan). Selain itu Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi mencerminkannya dalam perilaku sehari-hari (uswah hasanah). Kejujuran, kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang beliau—bahkan kepada orang yang memusuhi—menimbulkan simpati mendalam dan mempermudah diterimanya ajaran Islam. Islam di bawah pimpinan Nabi menghapus perbedaan ras, suku, dan kasta, serta menjunjung tinggi keadilan sosial, yang sangat menarik perhatian kaum lemah dan tertindas.

Al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur memudahkan manusia untuk menghafal, memahami, dan mengamalkannya.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS. [54] Al-Qamar : 17)

Surat Al-Qamar ayat 17 menegaskan bahwa Allah SWT telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari, dihafal, dan dijadikan peringatan.

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. QS. Al-Insyirah · Ayat 5

Ayat pertama (“Iqra”) menegaskan bahwa Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi utama peradaban. Menuntut ilmu dalam Islam adalah kewajiban bagi setiap muslim (laki-laki maupun perempuan) dari buaian hingga liang lahat. Ilmu yang wajib dipelajari meliputi ilmu agama (fardu ain) untuk ibadah dan ilmu umum (fardu kifayah) yang bermanfaat. Dalam Islam beberapa Keutamaan menuntut ilmu meliputi:
1. Jalan Menuju Surga: Langkah kaki penuntut ilmu dimudahkan oleh Allah menuju surga. (من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة..)
Artinya: Siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju syurga. (HR. Muslim)
2. Diangkat Derajatnya: Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi mereka yang berilmu. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
3. Warisan Para Nabi: Ilmu adalah warisan terpenting dari para nabi, lebih utama daripada harta. إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُورِّثُوا دِيْنَاراً وَلَا دِرْهَماً، ‌إِنَّمَا ‌وَرَّثُوا ‌العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

4. Kebaikan Dunia-Akhirat: Pengetahuan yang benar menuntun pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia mati, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, anak saleh yang mendoakan”

Peringatan Nuzulul Quran tentu sejatinya menjadi momentum meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta keberkahan di bulan Ramadan. Di tengah kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Berbagai probelamatika bangsa dan generasi merupakan tantangan kita sebagai ummat islam harus mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupan. Belum lagi tergerusnya moral dan akhlak sehingga menjadikan kita tersadar bahwa tidak ada solusi lain kecuali kembalilah kepada Al-Qur’an sebagai pedoman. Jika kita bisa mempedomani Hukum, Undang-undang yang dibuat oleh manusia yang dimana manusia sendiri tempatnya salah dan dosa maka kenapa kita ragu untuk berpedoman kepada yang Maha menciptakan dan pemilik alam semesta.

Al-Qur’an tidak pernah lekang oleh zaman karena nilai, hukum, dan petunjuknya bersifat universal, relevan sepanjang masa, serta terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Sebagai mukjizat abadi, Al-Qur’an mampu menjawab tantangan modern, memberikan solusi atas persoalan manusia, dan tetap menjadi pedoman hidup yang komprehensif, tidak membosankan, dan tidak usang. Pesan-pesan Al-Qur’an berlaku untuk seluruh umat manusia, tanpa memandang waktu atau wilayah.

Secara tekstual, Al-Qur’an tidak pernah mengalami perubahan sejak diturunkan. Hal ini menandakan Al-Qur’an dapat mengubah namun tidak dapat diubah. Ianya memberikan jawaban atas masalah kehidupan, termasuk perkembangan sains dan teknologi. Keindahan dan kekayaan makna bahasa Arab dalam Al-Qur’an membuatnya terus ditafsirkan sesuai perkembangan zaman. Beberapa keutamaan membacanya disebutkan:
* Pahala Berlipat Ganda: Setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan, bahkan bagi yang terbata-bata tetap mendapat dua pahala (pahala membaca dan usaha).
* Syafaat di Hari Kiamat: Al-Qur’an akan datang sebagai penolong bagi pembacanya.
* Ketenangan Hati (Syifa’): Membaca Al-Qur’an menenangkan hati dan jiwa.
* Pembersih Hati: Membersihkan hati yang berkarat.
* Mengangkat Derajat: Menjadi wasilah ditinggikan derajatnya oleh Allah.
* Bersama Malaikat: Orang yang lancar membaca akan bersama para malaikat yang mulia.
* Benteng Rumah: Membaca surat Al-Baqarah dapat mencegah setan masuk ke dalam rumah.

Demikian, semoga dengan momentum nuzulul Qur’an ini kita semakin dekat dengan Al-Qur’an untuk membaca, mengkaji, menghafal dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sampai Allah memanggil dan Al-Qur’an menjadi syafaat di akhirat kelak.

Hafizh El Yusufi
Direktur Pendidikan Diniyyah Al-Azhar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *