
Penulis : Elisa Pitria Ningsih, M. Pd Jabatan : Dosen STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang penuh keberkahan dan menjadi momentum istimewa bagi seluruh umat Islam di dunia untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah shaum serta dianjurkan memperbanyak amalan-amalan sunnah yang dapat menyempurnakan ibadahnya. Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, sehingga Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai bulan pendidikan (Syahrul Tarbiyah) yang sarat dengan pembinaan spiritual, moral, dan karakter.
Anak-anak dengan segala kreativitas dan potensi yang dimilikinya merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pelaku utama dalam berbagai perubahan sosial, budaya, dan peradaban. Di tangan merekalah estafet kepemimpinan dan pembangunan akan dilanjutkan. Maju atau mundurnya kehidupan suatu bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini. Oleh karena itu, investasi terbesar yang harus dilakukan adalah membangun karakter dan kepribadian anak sejak usia dini melalui pendidikan yang terarah, sistematis, dan berkelanjutan.
Dalam perspektif pendidikan Islam, pembentukan Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islami) menjadi prioritas utama. Kepribadian Islami bukan hanya tampak pada aspek ritual ibadah semata, tetapi juga tercermin dalam pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Kepribadian ini mencakup kekuatan aqidah yang kokoh, sehingga anak memiliki keyakinan yang lurus dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Selain itu, kepribadian Islami juga tercermin dalam ketulusan seseorang dalam bermuamalah, seperti menunjukkan sikap santun, menghormati orang lain, serta mampu bekerja sama dalam melakukan kebaikan. Kepribadian tersebut juga diwujudkan melalui sikap jujur (sidq), dapat dipercaya (amanah), saling tolong-menolong (ta’awun), bersikap adil (‘adl), rendah hati (tawadhu’), serta menumbuhkan rasa kasih sayang (rahmah) kepada sesama. Nilai-nilai ini menjadi landasan penting dalam membentuk karakter yang tidak hanya baik secara sosial, tetapi juga mencerminkan akhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Pembentukan Syakhshiyah Islamiyah bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pendidikan karakter Islami yang ditanamkan sejak usia dini akan melahirkan generasi yang berakhlak mulia, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, serta untuk mengoptimalkan hadirnya bulan Ramadhan sebagai Syahrul Tarbiyah (bulan pendidikan), banyak lembaga PAUD di Indonesia menghadirkan program-program pembinaan yang bernuansa spiritual dan edukatif dengan mengutamakan upaya pembinaan Ruhiyah. Salah satunya adalah PAUD Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi yang secara konsisten menjadikan Pesantren Ramadhan sebagai agenda rutin tahunan. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan. PAUD Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi merancang khusus waktu pelaksanaan Pesantren Ramadhan dilaksanakan di luar jam pelajaran biasanya. Pesantren Ramadhan di laksanakan di Jam 16.00 WIB s/d selesai (setelah sholat magrib berjama’ah) dari tanggal 23 Februari s/d 10 Maret 2026 setiap hari Senin-Jum’at, Kegiatan ini rutin dilaksanakan pada bulan Ramadhan dengan melakukan kegiatan secara berjama’ah yang diantaranya seperti buka puasa bersama, Sholat magrib berjama’ah dan mendengarkan tausiyah. Adapun tema-tema tausiyah yang disampaikan meliputi :
- Mengenalkan Ramadhan/Mengapa kita harus berpuasa.
- Keutamaan berpuasa di bulan suci Ramadhan
- Keutamaan sholat tarawih di bulan Ramadhan
- Hal – hal yang bisa membatalkan puasa
- Tips – tips berpuasa ala Rasulullah.
- Indahnya saling berbagi
- Berbakti kepada orang tua
- Amalan – amalan yang dilakukan untuk menguatkan ketaqwaan
- Sholat itu kunci surga
- Istiqomah dalam berbuat dan beramal baik
- Pentingnya sabar menahan hawa nafsu ketika puasa
- Orang yang rugi di bulan Ramadhan
Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
- Anak – anak dapat lebih mengenal Tuhan Penciptanya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Membangkitkan dan meningkatkan rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Sejak Dini.
- Untuk menggali lebih dalam ilmu agama dengan bermain sambil belajar.
- Membiasakan karakter islami pada anak.
- Anak mampu mengenal ibadah di bulan suci Ramadhan.
- Menganjurkan bonding antara siswa dan guru.
Hal tersebut menunjukkan keseriusan PAUD Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi dalam menanamkan nilai-nilai Islami kepada peserta didik melalui kegiatan Pesantren Ramadhan. Keseriusan ini tercermin dari penyediaan waktu khusus untuk pelaksanaan kegiatan, sehingga program dapat berjalan secara terarah dan optimal. Selain itu, terdapat perencanaan kegiatan yang disusun secara sistematis sebagai pedoman dalam pelaksanaan setiap rangkaian aktivitas. Guru-guru juga telah mempersiapkan materi yang akan disampaikan selama kegiatan Pesantren Ramadhan dengan metode yang Fun. Dengan persiapan yang matang tersebut, kegiatan Pesantren Ramadhan tidak hanya menjadi agenda tahunan semata, tetapi benar-benar menjadi sarana pembentukan karakter Islami pada anak sejak usia dini.
Melalui kegiatan Pesantren Ramadhan, nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, kedisiplinan, serta kepedulian sosial ditanamkan secara sederhana namun bermakna. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi tentang ibadah shaum, tetapi juga pada pembiasaan amalan-amalan sunnah seperti shalat berjamaah, membaca doa harian, menghafal surat-surat pendek, bersedekah, serta berbagi dengan teman. Program Pesantren Ramadhan di TK biasanya diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan religius yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Kegiatan tersebut antara lain praktik wudhu dan shalat secara sederhana, hafalan doa-doa harian, pengenalan serta kisah teladan para nabi, sedekah bersama, hingga kegiatan berbagi takjil sederhana kepada sesama. Seluruh rangkaian aktivitas ini dikemas secara menyenangkan melalui metode bermain sambil belajar, bernyanyi, bercerita, dan praktik langsung agar anak dapat memahami makna ibadah dengan cara yang mudah dan membahagiakan.
Praktik wudhu dan shalat, misalnya, tidak hanya mengajarkan gerakan secara teknis, tetapi juga menanamkan nilai kebersihan, ketertiban, dan kedisiplinan. Hafalan doa-doa harian membantu anak membiasakan diri mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya, sehingga tumbuh kesadaran spiritual sejak dini. Melalui kisah teladan para nabi, anak diperkenalkan pada nilai kejujuran, kesabaran, keberanian, dan ketaatan kepada Allah dengan bahasa yang sederhana dan inspiratif. Kegiatan sedekah bersama dan berbagi takjil menjadi sarana konkret untuk melatih empati dan kepedulian sosial. Anak belajar bahwa berbagi adalah bagian dari ajaran Islam yang membawa kebahagiaan, baik bagi pemberi maupun penerima. Dalam proses ini, tumbuh rasa kebersamaan, solidaritas, serta kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.

Aktivitas-aktivitas tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman secara kognitif, tetapi juga untuk membentuk pengalaman emosional dan spiritual yang bermakna. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, anak tidak sekadar mengetahui konsep kebaikan, melainkan belajar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai Islami perlahan terinternalisasi dan menjadi bagian dari karakter serta perilaku anak, yang diharapkan terus melekat hingga mereka tumbuh dewasa.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara sekolah dan orang tua. Guru berperan sebagai teladan utama dalam menunjukkan sikap sabar, lembut, dan konsisten dalam membimbing anak. Sementara itu, orang tua di rumah melanjutkan pembiasaan yang telah ditanamkan di sekolah, sehingga terjadi kesinambungan pendidikan karakter. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan emosional.
Dengan demikian, penanaman nilai-nilai karakter Islami sebagai prioritas utama dalam program Pesantren Ramadhan di taman kanak-kanak merupakan wujud nyata komitmen lembaga pendidikan dalam membangun fondasi kepribadian anak sejak usia dini. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian aspek kognitif semata, tetapi juga diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku, dan kesadaran spiritual yang seimbang. Melalui program yang terencana dan berkesinambungan, lembaga pendidikan berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, berakhlakul karimah, serta kokoh dalam Syakhshiyah Islamiyah. Anak-anak dibimbing agar mampu memadukan kecerdasan berpikir dengan kelembutan hati, kedisiplinan dengan keikhlasan, serta semangat belajar dengan nilai-nilai keimanan. Pada akhirnya, keberhasilan program Pesantren Ramadhan di taman kanak-kanak tidak hanya terlihat dari kemampuan anak dalam menghafal doa atau mempraktikkan ibadah, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai Islami. Inilah yang menjadi harapan besar lembaga pendidikan: menghadirkan generasi masa depan yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia sebagai fondasi bagi terwujudnya masyarakat yang lebih baik.

