
Nama : Lilia Nurramadani, M.Pd.
Dosen STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Handphone, tablet, televisi, dan berbagai perangkat digital lainnya kini semakin mudah ditemukan di lingkungan keluarga. Bahkan, anak usia dini pun sudah tidak asing dengan berbagai perangkat tersebut.
Gadget dapat menjadi sarana hiburan, komunikasi, bahkan media pembelajaran bagi anak. Anak dapat mengenal warna, bentuk, angka, huruf, lagu, cerita, dan berbagai pengetahuan melalui konten digital. Namun, di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat mengurangi kesempatan anak untuk bermain, bergerak, berkomunikasi, dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan.
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah anak harus dijauhkan sepenuhnya dari gadget?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Persoalan utamanya bukan hanya pada keberadaan gadget, tetapi pada bagaimana gadget digunakan, berapa lama digunakan, konten apa yang dikonsumsi, serta sejauh mana orang tua mendampingi anak.
Gadget Bukan Musuh, tetapi Penggunaannya Perlu Diatur
Teknologi pada dasarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dalam pendidikan anak usia dini, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media untuk memperkaya pengalaman belajar. Anak dapat memperoleh pengalaman melalui video edukatif, cerita digital, permainan interaktif, maupun berbagai sumber belajar lainnya. Namun, penggunaan teknologi sebaiknya tidak menggantikan pengalaman nyata yang sangat dibutuhkan anak usia dini.
Anak belajar bukan hanya melalui apa yang dilihat di layar, tetapi juga melalui aktivitas bermain, bergerak, menyentuh, mencoba, bertanya, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, gadget seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pusat kegiatan anak.
Pandangan ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang menekankan pentingnya penggunaan gawai secara bijaksana. Melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan, pemerintah tidak melarang pemanfaatan teknologi secara mutlak, tetapi mendorong pengaturan penggunaan gawai agar tidak mengganggu proses pendidikan dan tumbuh kembang anak.
Mengapa Penggunaan Gadget Perlu Diperhatikan?
Masa usia dini merupakan periode penting dalam perkembangan anak. Pada masa ini, anak membutuhkan berbagai pengalaman untuk mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, dan aspek perkembangan lainnya.
Ketika waktu anak terlalu banyak dihabiskan di depan layar, kesempatan untuk melakukan aktivitas lain dapat berkurang. Anak mungkin menjadi lebih jarang bermain secara aktif, berinteraksi dengan teman, melakukan kegiatan kreatif, atau berkomunikasi secara langsung dengan orang tua.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat berkaitan dengan berkurangnya ketertarikan anak terhadap aktivitas lain serta memengaruhi interaksi sosial anak. Karena itu, strategi orang tua berupa pendampingan, pembatasan, pengawasan, dan pemberian kesempatan bermain bersama teman sebaya menjadi penting dalam mendukung perkembangan sosial anak (RA & Rachmy Diana, 2023).
Penelitian lainnya juga menunjukkan pentingnya pengawasan dan interaksi orang tua ketika anak menggunakan gadget. Kurangnya pengawasan dan interaksi orang tua saat anak menggunakan gadget ditemukan berkaitan dengan risiko keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak usia 4–5 tahun (Aulia Septyani et al., 2021).
Hal tersebut bukan berarti setiap anak yang menggunakan gadget pasti mengalami gangguan perkembangan. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa cara penggunaan gadget dan kualitas pendampingan orang tua perlu mendapatkan perhatian.
Berapa Lama Anak Boleh Menggunakan Gadget?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari orang tua adalah mengenai batas waktu penggunaan gadget.
World Health Organization (WHO) memberikan rekomendasi mengenai aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan tidur bagi anak di bawah lima tahun. Untuk anak usia 3–4 tahun, waktu sedentari berbasis layar direkomendasikan tidak lebih dari satu jam per hari, dan semakin sedikit lebih baik. WHO juga menekankan pentingnya aktivitas fisik serta tidur yang cukup.
Namun, angka tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai satu-satunya ukuran. Orang tua juga perlu memperhatikan kualitas penggunaan gadget.
Anak yang menggunakan gadget selama 30 menit untuk menonton konten edukatif bersama orang tua tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan anak yang menggunakan gadget selama 30 menit tanpa pendampingan dan berpindah-pindah konten secara terus-menerus.
Dengan demikian, orang tua tidak hanya perlu bertanya, “Berapa lama anak bermain gadget?”, tetapi juga:
- Apa yang ditonton atau dimainkan anak?
- Apakah kontennya sesuai dengan usia?
- Apakah orang tua mendampingi?
- Apakah anak tetap memiliki waktu untuk bermain secara langsung?
- Apakah penggunaan gadget mengganggu tidur, makan, belajar, atau interaksi sosial?
Bagaimana Seharusnya Orang Tua Bersikap?
- Dampingi Anak, Jangan Hanya Memberikan Gadget
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memberikan gadget kepada anak tanpa pendampingan.
Padahal, kehadiran orang tua dapat membuat penggunaan teknologi menjadi lebih bermakna. Orang tua dapat bertanya kepada anak tentang video yang ditonton, menjelaskan sesuatu yang belum dipahami, atau menghubungkan apa yang dilihat anak di layar dengan pengalaman nyata.
Misalnya, ketika anak menonton video tentang hewan, orang tua dapat bertanya, “Ini hewan apa?”, “Di mana tempat tinggalnya?”, atau “Suara apa yang dikeluarkan hewan ini?”
Dengan cara tersebut, gadget tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi pemantik komunikasi dan proses belajar.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga mendorong praktik co-viewing, yaitu orang tua melihat dan membahas media bersama anak. Pendampingan semacam ini dapat membantu orang tua memahami pengalaman digital anak sekaligus memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.
- Buat Aturan yang Jelas dan Konsisten
Orang tua perlu membuat aturan penggunaan gadget yang sederhana dan mudah dipahami anak.
Misalnya:
- gadget digunakan pada waktu yang telah disepakati;
- tidak menggunakan gadget saat makan;
- tidak menggunakan gadget menjelang tidur;
- tidak membawa gadget ketika sedang melakukan kegiatan keluarga;
- gadget disimpan setelah waktu penggunaan selesai.
AAP menyarankan keluarga membuat family media plan, yaitu aturan penggunaan media yang disesuaikan dengan rutinitas dan kebutuhan keluarga. Aturan tersebut dapat mencakup zona bebas layar, pembatasan waktu, pemilihan konten, penggunaan parental control, serta keteladanan orang tua.
Di Indonesia, Kemendikdasmen juga memperkenalkan prinsip 3S, yaitu screen time, screen zone, dan screen break, sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan penggunaan gadget yang sehat sesuai usia dan perkembangan anak.
- Pilih Konten yang Sesuai dengan Usia Anak
Tidak semua konten yang menarik bagi anak merupakan konten yang baik untuk perkembangan mereka.
Orang tua perlu memperhatikan apakah konten menggunakan bahasa yang sesuai, memiliki nilai edukatif, mendorong kreativitas, dan tidak mengandung kekerasan maupun perilaku yang tidak sesuai untuk anak.
Penelitian Yuniarni et al. menunjukkan bahwa orang tua membutuhkan panduan mengenai penggunaan gadget yang sesuai bagi anak usia dini. Panduan tersebut penting agar pemanfaatan gadget dapat mendukung optimalisasi perkembangan anak, bukan sekadar menjadi sarana hiburan.
AAP juga merekomendasikan pemilihan konten yang berkualitas, mendorong pembelajaran dan kreativitas, serta menghindari konten yang tidak sesuai usia.
- Jangan Gunakan Gadget sebagai “Pengasuh Pengganti”
Gadget terkadang menjadi solusi praktis ketika orang tua sedang sibuk. Anak diberikan gadget agar tenang, tidak menangis, atau tidak mengganggu aktivitas orang tua. Jika dilakukan sesekali, hal tersebut mungkin sulit dihindari. Namun, gadget sebaiknya tidak dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk menenangkan atau menghibur anak. Anak perlu belajar mengenali dan mengelola emosinya melalui interaksi dengan orang dewasa. Mereka perlu diajak berbicara ketika marah, kecewa, bosan, atau sedih.
American Academy of Pediatrics (AAP) memperkenalkan pendekatan 5 C’s sebagai panduan bagi orang tua dalam membangun kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak. Kelima prinsip tersebut meliputi Child (memahami karakter anak), Content (memilih konten yang sesuai), Calm (membantu anak mengelola emosi tanpa selalu bergantung pada gadget), Crowding Out (memastikan gadget tidak menggantikan aktivitas penting anak), dan Communication (membangun komunikasi bersama anak mengenai media yang digunakan).
- Seimbangkan Gadget dengan Bermain
Anak usia dini adalah anak yang sedang belajar melalui bermain. Bermain dengan balok, menggambar, bermain peran, berlari, bermain bola, bermain dengan teman, melakukan eksperimen sederhana, membaca buku cerita, atau bermain permainan tradisional memberikan pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar.
Kemendikdasmen pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 juga mendorong anak untuk kembali bermain dan mengurangi penggunaan gadget. Berbagai aktivitas bermain langsung dipandang sebagai sarana untuk menstimulasi perkembangan fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak.
WHO juga menekankan pentingnya menggantikan waktu sedentari berbasis layar dengan aktivitas fisik dan aktivitas interaktif non-layar, seperti membaca, bercerita, bernyanyi, dan bermain bersama pengasuh.
Karena itu, setelah anak menggunakan gadget, orang tua dapat mengajak anak melakukan kegiatan nyata.
“Setelah menonton video tentang hewan, mari kita menggambar hewan.”
“Setelah melihat video tentang memasak, mari kita membuat makanan sederhana bersama.”
Dengan demikian, pengalaman digital dapat dilanjutkan menjadi pengalaman nyata.
- Orang Tua Harus Menjadi Teladan
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang dilakukan orang tua.
Jika orang tua terus-menerus memegang telepon ketika sedang bersama anak, anak dapat belajar bahwa gadget merupakan sesuatu yang lebih menarik daripada interaksi dengan orang lain.
Karena itu, aturan penggunaan gadget sebaiknya tidak hanya berlaku bagi anak.
Orang tua juga dapat menerapkan waktu bebas gadget, misalnya ketika makan bersama, berbicara dengan anak, atau sebelum tidur. AAP menekankan bahwa orang tua merupakan model penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat.
Peran Keluarga Sangat Penting
Penggunaan gadget pada anak usia dini bukan hanya persoalan anak. Ini adalah persoalan keluarga.
Penelitian Asmawati (2022), menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam pemanfaatan teknologi digital pada anak usia dini. Teknologi dapat dimanfaatkan secara positif ketika orang tua mampu menjalankan perannya dalam mengarahkan dan mendampingi penggunaan teknologi tersebut.
Penelitian Nugroho et al., (2022) juga menunjukkan beberapa bentuk peran orang tua dalam mengurangi dampak negatif gadget, antara lain membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang aman sesuai usia, menyeimbangkan penggunaan gadget dengan aktivitas lain, dan menetapkan aturan penggunaan gadget.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu menjadi “polisi gadget” yang hanya bertugas melarang. Orang tua lebih tepat menjadi pendamping digital yang membantu anak mengenal teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Sekolah dan Orang Tua Perlu Berjalan Bersama
Pengelolaan penggunaan gadget tidak akan berjalan optimal jika hanya dilakukan oleh sekolah atau hanya oleh keluarga.
Sekolah dapat memberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi yang sehat, sementara orang tua menerapkan kebiasaan tersebut di rumah. Keduanya perlu memiliki komunikasi dan pemahaman yang sejalan.
Kebijakan Kemendikdasmen mengenai pembatasan penggunaan gadget juga menekankan pentingnya kolaborasi antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun budaya digital yang sehat.
Bagi lembaga PAUD, hal ini menjadi peluang untuk memberikan edukasi kepada orang tua melalui kegiatan parenting, seminar, diskusi, maupun komunikasi rutin antara guru dan orang tua.
Bukan Melarang Teknologi, tetapi Mengajarkan Anak Menggunakannya dengan Bijak
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai anak dan gadget tidak seharusnya berhenti pada “boleh atau tidak boleh”.
Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua mengajarkan anak menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Gadget dapat menjadi media belajar. Namun, gadget tidak boleh menggantikan orang tua. Gadget dapat menjadi sumber informasi. Namun, gadget tidak boleh menggantikan pengalaman bermain. Gadget dapat menjadi sarana hiburan. Namun, gadget tidak boleh mengambil seluruh waktu anak untuk bergerak, berinteraksi, dan mengeksplorasi dunia nyata.
Anak usia dini membutuhkan layar, tetapi mereka jauh lebih membutuhkan kehadiran orang dewasa yang mau berbicara, bermain, mendengarkan, dan mendampingi mereka.
Maka, mari kita tidak sekadar bertanya, “Berapa lama anak bermain gadget?”
Mari mulai bertanya:
“Apa yang anak dapatkan dari gadget?”
“Apa yang hilang ketika anak terlalu lama berada di depan layar?”
Dan yang paling penting:
“Apakah kita sudah hadir ketika anak menggunakan teknologi?”
Karena teknologi seharusnya membantu anak tumbuh dan belajar, bukan mengambil alih masa kanak-kanaknya.

