
Nama : Dr. Suci Nora Julina Putri, M.Pd.
Dosen STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi
Kesehatan mental anak tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, dan hubungan sosial. Lingkungan fisik tempat anak tumbuh juga memiliki peran yang semakin mendapat perhatian. Kualitas udara, kepadatan lalu lintas, kebisingan, ruang hijau, serta kondisi lingkungan di sekitar rumah dan sekolah dapat berinteraksi dengan perkembangan psikologis anak.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa polusi udara berpotensi berkaitan dengan masalah perilaku dan kesehatan mental, sedangkan lingkungan hijau dapat memberikan manfaat melalui aktivitas fisik, interaksi sosial, pemulihan stres, dan kesempatan bermain. Namun, hubungan tersebut tidak selalu sederhana. Hasil penelitian dapat berbeda menurut usia anak, jenis paparan, kondisi sosial ekonomi, karakteristik lingkungan, dan metode pengukuran yang digunakan.
Studi Zubizarreta-Arruti et al. (2025), misalnya, menemukan indikasi bahwa paparan particulate matter berkaitan dengan peningkatan perilaku internalisasi pada anak, sementara tingkat vegetasi di sekitar sekolah cenderung berkaitan dengan perilaku eksternalisasi yang lebih rendah. Meski demikian, kekuatan hubungan tersebut berkurang setelah koreksi statistik yang lebih ketat. Temuan seperti ini menunjukkan bahwa penelitian kesehatan lingkungan perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar mencari hubungan antara satu paparan dengan satu masalah psikologis.
Mengapa Penelitian Longitudinal Diperlukan?
Sebagian penelitian lingkungan masih menggunakan desain potong lintang, yaitu mengukur kondisi lingkungan dan kesehatan mental pada waktu yang sama. Desain ini berguna untuk melihat pola awal, tetapi kurang mampu menjelaskan urutan kejadian. Penelitian longitudinal memungkinkan anak diikuti dalam periode tertentu. Pendekatan ini penting karena paparan pada usia prasekolah belum tentu memberikan pengaruh yang sama dengan paparan pada masa remaja. Masa kanak-kanak memiliki beberapa periode perkembangan sensitif yang melibatkan perubahan neurologis, emosional, sosial, dan kognitif.
Pengukuran berulang juga memungkinkan peneliti memahami apakah paparan bersifat sementara atau berlangsung secara terus-menerus. Anak yang tinggal bertahun-tahun di kawasan dengan kualitas udara buruk, misalnya, dapat memiliki pengalaman lingkungan yang berbeda dari anak yang hanya mengalami paparan pada periode tertentu.
Polusi dan Ruang Hijau Perlu Dilihat Bersamaan
Polusi udara sering dipandang sebagai faktor risiko, sementara ruang hijau diposisikan sebagai faktor pelindung. Kenyataannya, anak mengalami berbagai kondisi lingkungan secara bersamaan. Kawasan yang terlihat hijau belum tentu memiliki kualitas udara yang baik, terutama jika terletak dekat jalan raya dengan lalu lintas padat. Sebaliknya, lingkungan dengan tingkat polusi relatif rendah belum tentu menyediakan ruang bermain yang aman atau mudah diakses.
Ruang hijau juga tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah vegetasi. Kualitas, keamanan, aksesibilitas, fasilitas, dan kemungkinan anak benar-benar menggunakan ruang tersebut perlu diperhatikan. Karena itu, penelitian mendatang perlu mempertimbangkan polusi, vegetasi, kebisingan, suhu, kepadatan lalu lintas, serta kondisi sosial lingkungan secara lebih terintegrasi.
Pendekatan Genetik untuk Memperkuat Bukti
Penelitian longitudinal belum otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat. Faktor keluarga, sosial ekonomi, karakteristik biologis, dan pemilihan tempat tinggal masih dapat memengaruhi hasil. Salah satu pendekatan yang mulai digunakan adalah Mendelian randomization. Metode ini memanfaatkan variasi genetik sebagai instrumen untuk membantu menilai kemungkinan hubungan kausal antara suatu paparan dan outcome kesehatan.
Pendekatan genetik dapat memberikan bukti tambahan, tetapi tidak dapat berdiri sendiri. Hasilnya tetap perlu dikombinasikan dengan penelitian longitudinal, eksperimen alami, perubahan kebijakan, serta metode epidemiologis lainnya. Tujuannya bukan mengganti penelitian lingkungan, tetapi memperkuat inferensi melalui berbagai sumber bukti.
Mengapa Lintas Budaya Penting?
Banyak penelitian kesehatan lingkungan anak masih berasal dari Eropa dan Amerika Utara. Padahal, pola kehidupan anak sangat dipengaruhi oleh konteks geografis dan budaya.
Kepadatan permukiman, transportasi, kualitas udara, pola penggunaan ruang publik, serta kebiasaan anak bermain di luar rumah dapat berbeda antarnegara. Ruang hijau yang dianggap mudah diakses pada satu wilayah belum tentu memiliki fungsi yang sama di wilayah lain.
Konteks negara-negara Asia, termasuk Indonesia, karena itu perlu mendapat perhatian lebih besar. Penelitian tidak cukup hanya mengulang model dari negara lain, tetapi perlu menguji apakah mekanisme yang sama tetap berlaku pada kondisi sosial, budaya, dan lingkungan lokal.
Validasi lintas budaya juga berkaitan dengan pengukuran kesehatan mental. Cara anak, keluarga, dan masyarakat memahami stres, kecemasan, perilaku, atau kesejahteraan psikologis dapat berbeda. Instrumen yang digunakan perlu memiliki validitas yang sesuai dengan populasi yang diteliti.
Arah Penelitian Selanjutnya
Penelitian kesehatan mental anak berbasis lingkungan sebaiknya tidak hanya menjawab pertanyaan, “Apakah polusi atau ruang hijau berhubungan dengan kesehatan mental?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: kapan paparan lingkungan paling berpengaruh, siapa yang paling rentan, melalui mekanisme apa pengaruh tersebut terjadi, dan pada kondisi sosial serta budaya seperti apa hubungan tersebut menjadi lebih kuat atau lebih lemah?
Pendekatan seperti ini akan menghasilkan pemahaman yang lebih realistis mengenai perkembangan anak. Lingkungan tidak lagi dipandang sebagai latar pasif, tetapi sebagai bagian dari ekosistem perkembangan yang berinteraksi dengan faktor biologis, psikologis, keluarga, sekolah, dan sosial.
Penutup
Kesehatan mental anak perlu dipahami melalui perspektif yang lebih luas. Polusi udara, ruang hijau, lingkungan sekolah, dan karakteristik tempat tinggal dapat menjadi bagian dari faktor risiko maupun proteksi.Integrasi penelitian longitudinal, pendekatan genetik, dan validasi lintas budaya dapat membantu menghasilkan bukti yang lebih kuat. Hasil penelitian tersebut tidak hanya relevan bagi ilmu kesehatan dan psikologi, tetapi juga bagi pendidikan, bimbingan dan konseling, perencanaan kota, serta kebijakan perlindungan anak.
Upaya menjaga kesehatan mental anak, pada akhirnya, tidak hanya berkaitan dengan bagaimana anak dibimbing ketika mengalami masalah, tetapi juga bagaimana lingkungan tempat mereka tumbuh dibangun agar lebih sehat, aman, dan mendukung perkembangan.
Referensi
Putri, S. N. J., Setiawan, M. E., Amalia, R., & Wahyudin, H. (2026). Letter to the Editor: Reimagining environmental health for children – integrating longitudinal, genetic, and cross-cultural perspectives. Child and Adolescent Mental Health, 31(3), 252–253. https://doi.org/10.1111/camh.70038 Asosiasi Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Zubizarreta-Arruti, U., Bosch, R., Soler Artigas, M., et al. (2025). Associations between air pollution and surrounding greenness with internalizing and externalizing behaviors among schoolchildren. Child and Adolescent Mental Health, 30(2), 149–158. https://doi.org/10.1111/camh.12772 Asosiasi Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Shaughnessy, S., Messinger, D., & Evans, S. C. (2025). Longitudinal effects of green, blue, and gray spaces on early adolescent mental health in the United States. Child and Adolescent Mental Health, 30(2), 119–130. https://doi.org/10.1111/camh.12763 Asosiasi Kesehatan Mental Anak dan Remaja
De la Osa, N., et al. (2024). Long-term exposure to greenspace and anxiety from preschool and primary school children. Journal of Environmental Psychology, 93, 102207. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2023.102207 ScienceDirect
Sprague, N. L., Bancalari, P., Karim, W., & Siddiq, S. (2022). Growing up green: A systematic review of the influence of greenspace on youth development and health outcomes. Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology, 32(5), 660–681. https://doi.org/10.1038/s41370-022-00445-6 Nature
Zhou, J., Lu, Z., Xu, K., Zhao, G., Zhu, Y., Yuan, R., Sun, Y., Zhang, Y., & Yue, W. (2025). Air pollution is the risk factor for psychiatric disorders: A two-step Mendelian randomization study. Journal of Affective Disorders, 388, 119475. https://doi.org/10.1016/j.jad.2025.119475

