MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN di TAMAN KANAK-KANAK ISLAM DINIYYAH Al-AZHAR JAMBI


Lola Monika, M. Pd
Dosen STKIP Al-Azhar Diniyyah Jambi Indonesia
Correspondence email :  ibuoyafariq@gmail.com

Abstract. This study aims to describe what are the students obstacles in developing creativity though playing blocks at the Islamic Diniyyah Al-Azhar Jambi kindergarten. This reseach is qualitative reseach while this reseach is reseach that reveals theoretical and pratical benefits by describing the possible benefits of reseach result. Observasion is an offort used in observing sequentially. Documentation is to take several picture in order to get information through the required sources. Based on the results og this study it can be concluded that using block games can develop creativity in children well, children can be creative by using ideas that exist in them with self confidence.

Keyword : early childhood education, creativity, block game.

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja hambatan siswa dalam mengembangkan kreativitas melalui permaina balok di Taman kanak-kanak islam Diniyyah Al-Azhar Jambi. Penelitian ini bersifat penelitian kualitatif adapun penelitian ini merupakan penelitian yang mengungkapkan manfaat teoritis dan praktis, dengan cara menjabarkan yang memungkinkan memanfaatkan hasil penelitian. Observasi merupakan upaya yang dipakai dalam mengamati secara berurutan. Wawancara proses menanyakan dan menjawab yang dilakukan seseorang mengenai sebuah hal. Dokumentasi adalah dengan mengambil beberapa gambar guna mendapatkan informasi melalui sumber yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan permainan balok dapat mengembangkan kreativitas pada anak dengan baik, anak dapat berkreativitas dengan mengeluarkan ide-ide yang ada pada diri mereka dengan adanya rasa percaya diri.

Kata Kunci : Pendidikan Anak Usia Dini, Kreativitas, Permainan Balok.

PENDAHULUAN

Anak adalah sebuah anungrah yang berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mereka memberikan warna dalam kehidupan dalam kehidupan kita, pelita di dalam kegelapan. Anak adalah generasi penerus bangsa yang nantinya akan menetukan maju mundurnya suatu Negara. Sebagai generasi penerus bangsa, anak merupakan harta paling berharga yang harus kita jaga, sayangi, dan beri perhatian khusus, ini bertujuan untuk tercipta seorang generasi yang beriman, bertaqwa kepda Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Anak adalah harta yang paling berharga sekaligus cobaan bagi orang tuanya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Anfal ayat 28 (2005:180)

عَظِيْمٌۙ اَجْرٌ عِنْدَهٗٓ اللّٰهَ وَّاَنَّ فِتْنَةٌ وَاَوْلَادُكُمْ اَمْوَالُكُمْ اَنَّمَآ  وَاعْلَمُوْٓا

Artinya : “dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya lah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang besar”

Berhubungan dengan ayat tersebut anak menjadi tempat untuk belajar dalam metalih kesabaran, pengetahuan, dan iman seseorang. Seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih saying, perhatian, dan kebaikan maka akan tumbuh menjadi pribadi yang matang, baik, cakap, dan mandiri. Potensi yang dimiliki seorang anak dapat berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi lingkungannya memberikan stimulus yang baik. Stimulus yang didapatkan anak memiliki pengaruh besar pada kehidupannya. Hal ini di karenkan perkembangan yang dialami anak usia dini merupakan proses perubahan individu dari masa belum matang menjadi matang, sederhana menjadi komplek, dan suatu proses dan anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik. Pada usia sekitar 0-6 tahun sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Pada tahun-tahun ini anak mempunyai apa yang disebut dengan periode-periode sensitive dalam masa ini anak secara khusus akan mudah menerima stimulasi.

Perkembangan yang terjadi dalam masa ini berkisar pada penungasan dan pengendalian lingkungan atau yang biasa disebut dengan masa penjajahan, anak pun ingin mengetahui keadaan lingkungan sekitarnya, bagaimana perasaanya, dan bagaimana ia bisa menjadi bagian dari lingkungan. Disamping itu usia dini juga merupakan masa anak menjadi cukup peka dan peniru ulung dan imitator dalam lingkungannya. Proses peniruan atau imitasi yang didapatkan selama masa kanak-kanak ini dapat ditentukan derajat kualitas pribadi, kesehatan, intelegensi, kematangan sosial, bahasa dan produktivitas pada anak tahap yang selanjutnya. Proses ini selain dilakukan anak terhadap perilaku, tetapi juga pada bagaimana orang-orang sekitarnya melakukan interaksi dan komunikasi yang baik dibutuhkan anak supaya bisa menjadi bagian dari lingkungan dan kelompok sosial.

Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi kreatif, hanya saja dalam masa kehidupan ya ada anak yang berkembang baik kreativitasnya da nada pula anak yang mengalami hambatan dan kehilangan potensi kreatif mereka. Terhambat atau meningkatnya suatu perkembangan  khususnya perkembangan kreativitas anak akan selalu dipengaruhi oleh banyak faktor baik yang berasal dalam diri anak maupun yang berasal dari lingkungan anak yang akan berdampak pada perkembangan kreativitas anak selanjutnya. Melalui berbagai macam kegiatan kreatif yang dilakukan oleh guru dan anak, memberikan kesempatan pada anak untyk bebas mengekspresikan ide dan imajinasinya dalam berkreativitas, serta penyediaan saran dan sumber belajar yang beragam merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guna menstimulasikan kreativitas anak agar berkembang optimal. Sebenarnya perkembangan kreativitas sudah terdapat dalam perkembangan kognitif dan seni anak. sebab dalam berkreatifitas akan menumbuhkan imajinasi yang menuntut anak untuk berfikir. Sedangkan dalam perkembangan seni juga menuntut anak untuk berfikir dan melakukan kegiatan kreatif yang dapat menciptakan nilai estetis.

Berdasarkan observasi di taman kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi terdapat temuan permasalahan yang menunjukkan bahwa masih ada beberapa anak yang kreatifitasnya masih belum berkembang sesuai dengan harapan, dikarenakan rasa ingin tahu anak masih rendah, hal tersebut terlihat pada saat kegiatan pembelajaran anak-anak di bidang kreativitas masih cenderung pasif. Contohnya : anak masih kurang dalam membuat sebuah karya dengan menggunakan berbagai macam media dan alat permainan indoor sehingga membuat anak kurang mandiri dan kurang percaya diri dan membuat anak tidak berani mau bertanya, takut mencoba dan masih memerlukan bantuan guru untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Munculnya masalah tersebut tentunya tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, melihat kondisi seperti ini peran guru semakin penting dalam mengembangkan kreativitas anak. mengembangkan kreativitas anak secara optimal maka perlu diketahui faktor dominan yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas tersebut khususnya pada faktor yang berasal dari lingkungan sekolah diantaranya yakni faktor guru, faktor model pembelajaran, serta faktor sarana dan prasarana sehingga diharapkan guru dapat lebih terampil dalam mengembangkan kreativitas anak seoptimal mungkin.

LANDASAN TEORI

Mengembangkan Kreativitas   

Kreativitas adalah suatu kemampuan dalam menciptakan atau sebagai saran memberikan ide-ide yang kreatif untuk menyelesaikan masalah sehingga untuk jiwa yang perduli manusia. Menurut J. Seidel mengatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan dan mengaitkan, kadang-kadang dengan cara yang ganjil, namun mengesankan, dan ini merupakan dasar pendayagunaan kreatif dan daya rohani manusia dalam bidang atau lapangan umum. Menurut Santrock (2002), yaitu kemampuan untuk memikirkan sesuatu dengan cara-cara yang baru dan tidak biasa serta melahirkan suatu solusi yang unik terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Kreativitas suatu kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang ada. Konsep ini mengisyaratkan bahwa kreativitas tidak hanya bisa diaktualisasikan dalam bentuk fisik, akan tetapi juga dala bentuk fikir (kognitif). Jika seseorang dalam menciptakan gagasan baru dan menerapkannya dalam memecahkan suatu persoalan, itu adalah suatu wujud kreativitas (kreativitas kognitif).

Mekanisme Kreativitas

Orang-orang kreatif berhasil mencapai ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, hal atau produk baru, biasanya sesudah melewati beberapa tahap, dengan urutan yang dikemukanan oleh David Cambell melalui lima tahap dalam proses kreativitas yaitu :

  1. Persiapan (Preparation)

Meletakkan dasar, pelajari latar belakang permasalahan, seluk beluk dan problematikanya. Meskipun tidak semua ahli kreatif namun kebanyakan pencipta adalah ahli. Terobosan gemilang dalam suatu bidang hampir selalu dihasilkan orang-orang yang sudah lama berkecimpung dan lama berfikir dalam bidang itu. Persiapan untuk kreativitas itu kebanyakan dilakukan atas dasar “minat” kesuksesan orang-orang besar tercapai dan bertahan, bukan oleh loncatan yang tiba-tiba, tetapi dengan usaha keras.

  1. Konsentrasi (Concentration)

Orang-orang kreatif biasanya serius perhatianya tercurah dan pikirannya terpusat pada hal yang mereka kerjakan. Penulis, seniman, ilmuan, penemu, orang iklan dan usahawan inovatif kerap menceritakan saat-saat konsentrasi panjang yang mereka buat sebelum perkara yang mereka coba pecahkan teratasi.

  1. Inkubasi (Incubation)

Mengambil waktu untuk meninggalkan perkara, istirahat, waktu santai. Sebuah busur tidak dapat direntang terus-menerus untuk jangka panjang tanpa bahaya patah. Maka kita perlu melarikan diri dari perkara yang sedang kita selesaikan, dan masalah yang hendak kita pecahkan. Inkubasi merupakan saat saat dimana sedikit demi sedikit kita bebaskan dari kerutinan berpikir, kebiasaan bekerja, kelaziman pemakai cara.

  1. Iluminasi

Tahap Iluminasi merupakan tahap yang paling menyenangkan sebab bagian yang paling nikmat dalam penciptaan. Sebab tahap ketika semuanya jelas dan penerapan untuk pemecahan masalah, penyelesaikan perkara, cara kerja, jawaban baru tampak laksana kilat. Pada waktu tahap imunisasi itu datang, kita ibarat orang mabuk kepayang, kita melayang amat gembira tak terlukiskan.

  1. Verifikasi/Produksi

Memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah. Betapa pun memuaskan, barulah merupakan akhir dari suatu awal. Masih ada pekerjaan berat yang harus dikerjakan kalau sudah menemukan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja baru, kita harus turun tangan mewujudkannya. Berapapun banyak ide, gagasan, ilham, impian yang bagus-bagus yang dikemukakan, jika tidak dapat diwujudkan semuanya akan lenyap bagai embun diterjang sinar matahari, maka kreatif harus memiliki kecakapan kerja baik secara pribadi maupun kelompok.

Faktor Pendukung dan Penghambat Perkembangan Kreativitas

Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam mengembangkan kreativitas anak terdapat beberapa faktor pendukung yakni :

  1. Faktor Internal Individu

Faktor yang berasal dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas yakni keterbukaan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu. serta keterbukaan terhadap pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha, tanpa melakukan terhadap pegalaman-pengalaman tersebut. dan, kemampuan individu dalam menilai produk yang di hasilkan ciptaan seseorang oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain.

  1. Faktor Eksternal (Lingkungan)

Yaitu yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan.  Kebudayaan dapat dikembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil bagi pegembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang menumpuk dan mengembangkan kreativitas dalam masyarakat.

Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas sehingga perananya sangat menentukan pembentukan kreativitas anak, lingkungan pendidikan cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berfikir anak didik untuk menghasilkan produk kreativitas yakni berasal dari pendidik. Kemudian, bagi orang tua/pendidik adapu  salah satu hal penting sebagai tambahan yang harus diaktualisasikan dalam mendidik anak untuk mengembangkan kreativitasnya dapat juga dilakukan melalui komunikasi yang efektif, karena melalui komunikasi yang baik akan dapat menstimulasi tindakan kreatif mereka. Adapun cara komunikasi tersebut dapat dilakukan melalui :

  1. Dukungan/penerima
  2. Gunakan pembuka
  3. Mendengarkan dengan penuh perhatian
  4. Gunakan pernyataan “kamu” untuk merefleksi ide-ide dan perasaan anak
  5. Hilangkan perkataan “jangan”
  6. Berbicara dengan anak bukan berbicara kepada anak
  7. Buatlah permintaan kita menjadi sederhana
  8. Cari perhatian anak sebelum berbicara kepadanya
  9. Buatlah permintaan-permintaan penting dan tegas
  10. Berkomunikasi dengan pandangan mata sejajar
  11. Katakana “tolong” dan “terima kasih kembali” kepada anak
  12. Cobalah untuk tidak menginterupsi dan memarahi anak ketika anak sedang bercerita
  13. Jangan menggunakan kata-kata yang tidak baik yang dapat menyakiti hati anak
  14. Gunakan kata-kata yang baik untuk memberikan semangat menbentuk anak

Dari beberapa cara komunikasi yang baik di atas, akan membantu anak untuk mengembangkan kepercayaan dirinya, harga dirinya serta hubungan baik dengan orang lain. Dimana hal ini akan dapat menjadikan hidup anak lebih indah.

Faktor Penghambat Perkembangan Kreativitas  

Dalam mengembangkan kreativitas, seorang anak dapat mengalami berbagai hambatan yang dapat merusak bahkan mematikan kreativitasnya, adapun hambatan-hambatan tersebut yakni :

  1. Evaluasi

Rogers menekankan salah satu syarat untuk memupuk kreativita konstruktif ialah bahwa pendidikan tidak memberikan evaluasi, atau paling tidak menunda pemberian evaluasi sewaktu anak sedang asyik berkreasi. Munandar 2012 mengatakan kritik atau penilaian positif apapun walaupun dalam betuk pujian akan dapat membuat anak kurang kreatif, jika pujian itu memusatkan perhatian pada harapan akan dinilai, Minsalnya guru memberikan evaluasi dalam bentuk angkat dan tidak memberikan penjelasan serta umpan balik positif.

  1. Hadiah

Kebanyakan orang percaya memberikan hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut. ternyata tidak demikian, pemberian hadiah dapat merusak motivasi intrinsic dan mematikan kreativitas, cukup banyak penelitian menunjukkan bahwa jika perhatian anak terpusat untuk mendapatkan hadia sebagai alasan untuk melakukan sesuatu, maka motivasi instrinsik dan kreativitas mereka akan menurun.

  1. Persaingan

Kompetensi lebih kompleks daripada pemberian evaluasi atau hadiah secara tersendiri, karena kompetensi meliputi keduanya. Biasanya persaingan terjadi apabila anak merasa bahwa pekerjaanya akan dinilai terhadap pekerjaan siswa lain dan bahwa yang terbaik akan menerima hadiah. Hal ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sayangnya dapat mematikan kreativitas, selanjutnya hal ini menimbulkan persaingan antar siswa akan mulai membandingkan dirinya dangan siswa lain.

  1. Lingkungan yang membatasi

Belajar dan kreativitas tidak dapat ditingkatkan dengan paksaan. Sebagai anak dia mempunyai pengalaman mengikuti sekolah sangat menekankan pada disiplin dan hafalan semata-mata, ia selalu memberitahu apa yang harus di pelajari, bagaimana mempelajarinya,dan pada saat ujian harus mengulanginya dengan dengan cepat, pengalaman yang baginya amat menyakitkan dan menghilangkan minat terhadap ilmu. Minslanya anak tidak akan diberikan kesempatan untuk menggambarkan berbagai jenis tumbuhan yang mereka sukai dan selalu guru yang menetapkan jenis tumbuhan apa yang harus digambar anak.

Selain faktor penghambat kreativita di atas, ternyata peranan atau sikap guru terutama orang tua juga memainkan andil yang cukup besar dalam menghambat kreativitas anak sebab anak siap memasuki sekolah mereka belajar bahwa mereka harus menerima perintah dan menyesuaikan diri dengan peraturan dan perintah orang dewasa dirumah dan kelak disekolah, semakin keras kekuasaan orang dewasa semakin beku kreativitas anak tersebut (Hurlock, 1978).

Adapun kesalahan yang dilakukan dalam mendidik sehingga menghambat pengembangan kreativitas anak sekolah (Susanto, 2014)  adalah :

  1. Mengatakan kepada anak bahwa ia akan dihukum jika berbuat salah
  2. Tidak memperbolehkan anak menjadi marah terhadap orang tua
  3. Tidak boleh anak mempertanyakan keputusan orang tua
  4. Tidak membolehkan anak bermain dengan yang berbeda dari keluarga anak, mempunyai pandangan dan nilai yang berbeda dari keluarga anak.
  5. Anak tidak boleh berisik
  6. Orang tua ketat mengawasi kegiatan anak
  7. Orang tua memberi saran-saran spesifik tentang penyelesaian tugas
  8. Orang tua kritis terhadap anak dan menolak gagasan anak
  9. Orang tua tidak sabar dengan anak
  10. Orang tua dan anak adu kekuasaan
  11. Orang tua menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas

Manfaat Kreativitas Dalam Kehidupan Anak

Kreativitas memiliki manfaat besar bagi kehidupan anak kelak dikemudian hari. Sebab didalam jiwa seoranga anak yang kreatif memiliki nilai-nilai kreativitas yaitu :

  1. Kreativitas memberi anak-anak kesenangan dan kepuasan pribabdi yang sangat besar penghargaan yang mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan pribadinya.
  2. Menjadi kreatif penting bagi anak kecil untuk menambah bumbu dalam permainnya pusat kegiatan hidup mereka, jika kreativitas dapat membuat permainan menyenangkan mereka akan merasa bahagia dan puas, ini sebaliknya akan menumbuhkan pribadi sosial yang baik.
  3. Prestasi merupakan kepentingan utama dalam penyesuaian hidup mereka, maka kreativitas membantu mereka untuk mencapai keberhasilan dibidang yang berarti bagi mereka dan di pandang baik oleh orang yang berarti baginya akan menjadi sumber kepuasa ego yang besar.
  4. Nilai kreativitas yang penting dan sering dilupakan ialah kepemimpinan, pada setiap tingkatan usia pemimpin harus menyumbangakan sesuatu pada kelompok yang penting artnya bagi anggota kelompok sumbangan itu mungkin bentuk susulan mengenai bagaimana jawab khusus terhadap kelompok.

Permainan Balok

Bermaian adalah hak setiap anak. bermain merupakan lahan anak-anak dalam mengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan dan tanpa paksaan. Bagi orang dewasa kegiatan bermain yang dilakukan anak-anak merupakan hal sepele dan membuang waktu, namun tidak untuk anak-anak dengan bermaian mereka dapat mengembangkan aspek sosial, membangun kreativitas serta mengasah kemampuan fikir dan kebahasaan anak dalam berkomunikasi, dan bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya dan lingkungan sosialnya (Sugianto, 1995:11). Permainan balok merupakan salah satu bentuk alat permainan edukatif (APE) sebagaimana yang telah ditetapkan oleh dewan kesejahteraan nasional sejak tahun 1972. Alat permainan edukatif yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana atau peralatan  untuk bermain yang mengandung nilai pendidikan dan dapat mengembangkan seluruh aspek kemampuan anak.

Mulyadi menjelaskan permainan balok adalah jenis kegiatan yang sifatnya konstruktif, dimana anak mampu membangun sesuatu dengan menggunakan balok. Balok yang sudah disediakan hal ini senada dengan pendapat Chandra menyebutkan bahwa keterampilan bermain balok adalah kemampuan dalam mengkonstruksikan struktur yang digunakan oleh anak untuk mengungkapkan ide-ide kreatif. Adapun dari permaian balok terdapat 4 aspek nilai perkembangan bagi anak. yaitu : 1) Fisik Motorik, 2) Perkembangan Kognitif, 3) Perkembangan Sosial, 4) Perkembangan Emosional.

METODOLOGI PENELITIAN

Pendekatan yang dilakukan peneliti ialah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam buku Farida Nugrahani, 2014:8) penelitian kualitatif berupa cara peneliti agar mendapatkan informasi deskriftif seperti kata tertulis maupun lisan dari subjek yang diamati. Prosedur penelitian ini menghasilkan penemuan yang diperoleh melalui data-data yang dikumpulkan berdasarkan data yang disatukan dengan wawancara, pengamatan, dokumen atau arsip, dan tes. Peneliti memilih pendekatan kualitatif karena metode kualitatif bisa mengungkapkan dan memberi rincian yang kompleks mengenai hal yang ini diteliti tersebut. berdasarkan permasalahan yang akan diteliti yaitu untuk mengetahui bagaimana perencanaa, pelaksanaan dan evaluasi pada pembelajaran menggunakan media balok dalam proses belajar mengajar maka jenis penelitian ini adalah deskriptif ini merupaka metode penelitian yang berupa pencarian fakta dengan interpretasi (pandangan/pendapat) yang tepat terhadap objek penelitian, dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran-gambaran atau data secara sistematis (teratur), factual (sesuai kenyataan) dan akurat (teliti).

Adapun subyek dalam penelitian ini yaitu guru wali kelas, kepala sekolah, dan anak berdasarkan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dari pembejaran menggunakan media balok kelas K2E TK Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi Tahun ajaran 2021/2022.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Masalah disekolah merupakan tanggung jawab guru sebagai pendidik oleh karena itu tanggung jawab yang diberikan sepenuhnya kepada guru, setiap permasalahan yang berhubungan dengan anak, guru wajib menyelesaikannya. Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi dengan guru dan didukung dengan data dokumentasi, maka peneliti mendengar yang dilakukan guru untuk mengembangkan kreativitas anak melalui permainan balok, yaitu guru selalu berupaya untuk mengidentifikasi perkembangan kreativitas anak saat bermain balok bagi setiap anak. hal ini diungkapkan guru kelas K2E Taman Kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi.

Berdasarkan hasil wawancara, guru menyiapkan rangsangan stimulus yang berupa motivasi-motivasi kepada anak agar mampu berkreativitas secara aktif dan efektif, yang akan memberikan perkembangan kreativitas anak dengan melalui permainan balok. Guru juga menyiapkan siswa secara fisik dan mental dalam proses pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan berbagai metode dan strategi saat bermain balok sehingga kreativitas anak semakin berkembang. Dalam kegiatan pelaksanaan balok ini guru dapat melakukan rangsangan dengan baik terhadap anak yang berupa arahan dan motivasi-motivasi kepada anak agar mau berinteraksi saat melakukan kegiatan guna mengembangkan kreativitas anak serta guru juga memastikan yang kondusif dan aman saat anak bermain.

Pada saat peneliti melakukan wawancara, peneliti melihat bahwa yang menjadi faktor pendukung dalam mengembangkan kreativitas anak melalui permainan balok yaitu adanya upaya guru yang kompetensi dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Maka sehubungan dengan itu dengan ini, peneliti melakukan wawancara dengan ibu Aniah selaku guru wali kelas K2E Taman Kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi pada tanggal 10 Juni 2022. Dan hasil wawancara dengan wali kelas K2E Taman Kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi, bahwasanya ada beberapa dukungan yang dapat menunjang kreativitas anak melalui permainan balok membuat anak didiknya lebih semangat, sehingga kreativitas anak melalui permainan balok dapat berkembang dengan baik.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian dalam pelaksanaan mengembangkan kreativitas anak melalui permainan balok pada anak usia 5-6 tahun di tanam kanak-kanak Islam Diniyyah Jambi :

  1. Dengan mengembangkan kreativitas anak melalui permainan balok guru yang bertanggung jawab penuh dengan proses perkembangan anak serta pengelolaan kelas yang lebih baik sehingga kegiatan belajar seraya bermain terlaksana dengan baik dan peran orang tua di rumah juga harus memperhatikan perkembangan apa-apa saja yang terdapat pada anak.

Pelaksanaan kreativitas anak melalui permainan balok di Taman Kanak-kanak Islam

  1. Diniyyah Al-Azhar Jambi yaitu adanya rangsangan/stimulus dengan baik terhadap anak serta motivasi-motivasi agar anak mau berkreativitas serta mengeluarkan ide-ide dengan baik saat bermain balok, dengan menyusun pembelajaran pada saat sebelum pembelajaran dilaksanakan, selain itu anak juga mampu mengekspresikan ide pada orang lain yang nama pada saat melakukan permainan anak dapat memberitahu kepada temannya cara menyusun balok agar dapar membentuk suatu bangunan atau bentuk-bentuk lainnya.
  2. Faktor pendukung kreatifitas anak melalui permainan balok di Taman Kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi yaitu tersedianya APE balok serta lingkungan kondusif sehingga kreativitas anak mampu berkembang dengan baik. Dengan adanya fasilitas lengkap APE balok pada saat pembelajaran juga berpengaruh dalam mengembangkan kreativitas pada anak.
  3. Dan adapun faktor penghambat kreativitas anak di Taman Kanak-kanak Islam Diniyyah Al-Azhar Jambi adanya kurangnya rasa percaya diri yang dimilik oleh anak dalam mengeluarkan ide-ide dalam membentuk susunan pada saat bermain balok, maka dari itu faktor tersebut sebagai penghambat mengembangkan kreativitas anak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-qur’an dan terjemahannya Departemen Agama RI (2005), di penegoro bandung (Buku pengembangan kreativitas AUD) teori dan praktek Cambell. D. 2013 mengembangkan kreativitas, Yogyakarta, kanibius.

Departemen Pendidikan Nasional (2003), alat permainan edukatif untuk kelompok bermain

Dedi Supriadi. (2005) Kreativitas, kebudayaan dan perkembangan Iptek, Bandung : Alpabet

Dini, Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini.

Hurlock, E.B. Fruchter, (2010) Psikologi Perkembangan (suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan), edisi kelima. Penerbit Erlangga : Jakarta

Latif Mukhtar, dkk. 2013, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta : Kencana Prenada Media Group

Munandar Utami (2009:45), Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : PT. Gramedia

Montulalu, B.E.F, dkk, (2005) Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas Terbuka

Mulyani Novi 2016, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia. Yogyakrta : Diva Press (Anggota Ikapi)

Oemar Hamalik 2008, Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Priyadharma, Triguna, Kreativitas dan strategi Golden TrayonPres : Jakarta Permenkemendikbud Nomor 146 Tahun 2014 Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

Rachmawati dkk 2010, strategi perkembangan kreativitas pada anak (usia taman kanak-kanak) Jakarta : Kencana Prenada Media Group

  1. C Utami Munandar (2015), mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah – petunjuk bagi guru dan orang tua, Jakarta : Gramidia Wadiaserana

Slamet Suryanto (2005), Dasar-dasar PAUD, Yogyakarta : Hikayat

Sumber : Alat Permainan Edukatif Untuk Kelompok Bermain, Diknas, 2003

Sugiyono 2018. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Alfabeta

Sujiono, Yuliani Nurani (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : PT Indeks

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *